• Alamat Jl. Lili kembang, Maguwo, DIY
Call Center: (0274) 280 3000

Tes deteksi infertilitas dilakukan untuk mengetahui penyebab gangguan kesuburan pada pria dan wanita. Paradigma baru dalam hal ini adalah pemeriksaan sperma dilakukan lebih dulu dibandingkan semua tes pada wanita. Sebab dikutip dari WHO tahun 2019, 37% infertilitas disebabkan oleh faktor kualitas sperma.

Pemeriksaan Infertilitas Pada Pria

  1. Analisis sperma

Analisis sperma dilakukan di laboratorium dengan meneliti materi genetik dan konsentrasi sperma meliputi: jumlah, pergerakan dan bentuk sperma. Jumlah sperma per ejakulasi normalnya sekitar 45-75 juta, pergerakan sperma yang progresif maupun lambat minimal 32% dari jumlah total dan bentuk sperma hendaknya normal dari kepala hingga ekor. Bentuk sperma yang tidak normal tentu akan menyulitkan terjadinya pembuahan alami.

Sperma sebagai pembawa materi genetik seorang pria juga dapat dianalisis melalui pemeriksaan ini. Sperma dibungkus oleh protein yang bernama protamin. Protein ini sangat mudah terdegradasi oleh suhu lingkungan. Jika area testis sering terpapar panas, ada kecenderungan terjadi kerusakan DNA pada sperma. Kerusakan diatas 30% tidak dapat diberbaiki oleh sel telur. Oleh sebab itu, penting bagi para pria untuk menjaga suhu tubuh terutama di area organ reproduksi. Kebiasaan seperti mandi sauna, penggunaan pakaian dalam terlalu ketat, bersepeda jarak jauh, penggunaan alat elektronik secara berlebihan, menonton TV lebih dari 40 jam seminggu dan paparan radiasi saat bekerja tentu akan mengganggu kualitas sperma. Selain faktor suhu, kerusakan sperma disebabkan oleh kelainan genetik dan gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok dan konsumsi minuman beralkohol. Berikut acuan normalitas analisis sperma menurut WHO tahun 2010.

  1. Analisis ukuran testis

Pemeriksaan ini dilakukan untuk memastikan apakah masih ada sperma yang dapat dihasilkan oleh testis. Besar testis normal adalah lebih dari 10 ml. Jika lebih kecil, pria kemungkinan menderita hipogonadotropik hipogonadism (kondisi menurunnya fungsi testis karena gangguan hormon).

  1. Analisis hormon FSH dan testosteron

Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara mendeteksi kadar hormon FSH (folicle stimulating hormone) dan testoteron dalam darah. Hormon FSH memproduksi pengikat protein yang merangsang pembentukan sperma sedangkan hormon testoteron merupakan hormon seks pria. Nilai normal FSH pada pria usia 13-40 tahun adalah 1,4-18,1 mIU/mL sedangkan testosteron 400-1080 ng/dl.

Pemeriksaan Infertilitas Pada Wanita

Beberapa pemeriksaan di bawah ini mencakup urutan pemeriksaan infertilitas pada wanita. Diawali dari faktor ovulasi kemudian dilanjutkan pemeriksaan saluran telur dan rahim.

  1. Pemeriksaan Siklus Haid Bulanan

Adanya sel telur yang matang merupakan komponen paling penting dalam pemeriksaan infertilitas. Normalnya, setiap bulan seorang wanita melepaskan 1 sel telur matang yang siap bertemu sperma. Di tuba falopi, sel telur ini bertemu dengan sperma dan terjadilah fertilitasi (pembuahan). Produksi sel telur matang dapat diamati lewat siklus haid. Periode menstruasi yang teratur adalah 21-35 hari dan berlangsung selama 3-7 hari. Jika seorang wanita memiliki siklus haid teratur maka indikasinya tidak ada masalah pada produksi sel telur matang.

  1. Pemeriksaan Hormon Progesterone

Hormon progesteron merupakan hormon yang diproduksi oleh ovarium untuk mendeteksi kematangan sel telur. Saat fase folikuler dimulai di hari pertama menstruasi, kadar progresteron cenderung rendah. Namun sebaliknya, saat ovulasi (pelepasan sel telur matang dari ovarium menuju rahim) kadarnya akan meningkat. Pemeriksaan ini dilakukan dengan mendeteksi serum progesterone dalam darah. Jika seorang wanita mengalami gangguan ovulasi atau bahkan anovulasi (sel telur tidak matang dan tidak dapat dibuahi oleh sperma) maka kadar progesteron dalam darah dapat menjadi petunjuk.

  1. Histerosalfingografi (HSG)/Uterosalfingografi

Merupakan pemeriksaan radiologi dengan cara memasukkan cairan kontras untuk melihat apakah saluran telur terbuka dengan normal atau mengalami kelainan. Jika ada penyumbatan, polip atau gangguan lain maka akan terlihat jelas melalui foto rontgen. Prosedur pemeriksaan ini dapat dilakukan pada hari ke-9 atau 10 siklus menstruasi (setelah bersih) atau sebelum terjadi ovulasi berikutnya untuk memastikan dalam kondisi tidak hamil.

Saat pemeriksaan, selang kecil akan dimasukkan melalui vagina sebagai jalan masuk cairan kontras sampai ke rahim. Jika cairan tersebut tidak mengalir maka indikasinya terdapat penyumbatan pada saluran telur.

  1. USG Transvaginal

Pemeriksaan  ini  dilakukan untuk mengetahui kondisi kesehatan organ reproduksi wanita meliputi ovarium (indung telur), tuba falopi, leher rahim dan terutama rahim. Sel telur diproduksi di ovarium kemudian dilepaskan dan bertemu sperma di tuba falopi. Embrio hasil pembuahan akan melewati leher rahim dan berkembang di dalam rahim. Apabila dalam rahim ditemukan gangguan berupa miom, polip, kista cokelat dan lain-lain maka akan menghambat terjadinya kehamilan.

Metode ini memberikan gambaran lebih jelas dibandingkan USG abdominal. Dokter akan memasukkan alat bernama transduser sepanjang 2-3 inci melalui vagina dan melihat kondisi organ reproduksi anda. Prosedur ini dapat dilakukan kapan saja termasuk saat sedang menstruasi.

Pemeriksaan Tambahan Deteksi Infertilitas Bagi Pria & Wanita

  1. Analisis hormon

Analisis anti-mullerian hormon (AMH) dilakukan pada pria dan wanita melalui cek darah. Pemeriksaan ini digunakan untuk menghitung jumlah cadangan sel telur yang dihasilkan oleh ovarium pada wanita saat masih bayi. Sedangkan pada pria, tes AMH digunakan untuk mendeteksi normalitas produksi hormon AMH atau sebagai persiapan program bayi tabung (IVF). Hormon AMH yang dihasilkan testis cukup tinggi pada saat bayi dan berangsur turun setelah masa subur. Namun sebaliknya pada bayi perempuan kadar hormon AMH berada di level rendah, meningkat saat masa pubertas dan berangsur turun menjelang menopause.

Kadar AMH normal (>1,2 ng/ml) dalam darah memberikan indikasi kuantitas dan kualitas cadangan telur yang cukup untuk kehamilan. Jika dibawah 1,1 ng/ml maka dikategorikan poor ovarian reserve (kondisi dimana wanita usia reproduktif mempunyai cadangan telur di bawah rata-rata seusianya). Apabila demikian peluang kehamilan semakin kecil. Pada penderita PCOS, kadar AMH terlalu tinggi yaitu mencapai lebih dari 3,0 ng/ml.

Penanganan Infertilitas

Setelah mengetahui penyebab infertilitas dan pemeriksaannya, pasangan-pasangan yang ingin memiliki buah hati tentu perlu mengetahui tindakan apa saja yang dilakukan untuk menangani infertilitas. Konseling dengan dokter kandungan merupakan hal wajib guna menentukan metode pengobatan. Dokter biasanya akan memberikan resep asam folat dan antibiotik. Fungsinya untuk meningkatkan kesuburan dan mengeliminasi kuman-kuman yang berpotensi menganggu kesuburan. Kebiasaan dan pola hidup yang kurang sehat juga sebaiknya dihentikan. Dengan cara-cara di atas, kehamilan dapat terjadi dengan alami.

Selanjutnya apabila belum terjadi kehamilan, dokter akan melakukan pendekatan-pendekatan sesuai dengan diagnosis pemeriksaan. Berbagai macam penanganan yang mungkin dilakukan pada pria:

  1. Pemberian vitamin E, C dan antioksidan

Konsumsi vitamin-vitamin tersebut terbukti dapat memperbaiki kualitas sperma terutama di sisi motilitas (pergerakan sperma). Namun pemberian suplemen tidak dapat meningkatkan jumlah sperma ataupun memperbaiki bentuk sperma.

  1. Inseminasi

Pada kondisi tertentu, pemberian suplemen tidak juga membantu terjadinya kehamilan. Maka dilakukan inseminasi sebagai sebuah prosedur untuk mendekatkan jarak sperma dengan sel telur. Sebelum inseminasi, dilakukan teknik pencucian sperma yaitu memilih sperma yang berkualitas untuk disemprotkan ke rahim. Sel telur matang telah disiapkan secara alami atau dengan bantuan obat hormon. Diharapkan dengan upaya ini, fertilisasi dapat terjadi. Syarat penting suksesnya inseminasi adalah ditemukan jumlah sperma sekitar 10-40 juta dalam satu kali ejakulasi. Jika kurang dari 10 juta maka harus dibantu dengan IVF/bayi tabung.

Sedangkan penanganan yang dilakukan pada wanita:

  1. Pemberian obat-obat hormon

Obat hormon dapat diberikan dengan cara diminum langsung atau melalui suntikan untuk memicu pertumbuhan dan kematangan sel telur contoh: gonadotropin.

  1. Laparoskopi

Setelah pemberian obat hormon, prosedur laparaskopi dapat dilakukan untuk membentuk lubang pada ovarium. Diharapkan hormon androgen menurun dan proses ovulasi membaik. Pembedahan ini juga dapat dilakukan untuk pengangkatan kista kandung telur, miom atau gangguan lain dengan aman dan minim risiko.

  1. In Vitro Fertilization (IVF) atau Bayi tabung

Jika upaya-upaya sebelumnya tidak berhasil maka langkah terakhir yang bisa dilakukan adalah IVF atau bayi tabung. Teknik reproduksi ini dilakukan dengan cara mengawinkan sperma dan sel telur di luar tubuh kemudian jika embrio telah terbentuk, segera disemprotkan ke dalam rahim.