• Alamat Jl. Lili kembang, Maguwo, DIY
Call Center: (0274) 280 3000

Wanita hamil dan yang sedang menjalani program hamil kini enggan untuk melakukan pemeriksaan di rumah sakit. Risiko penularan virus covid-19 makin mengkhawatirkan mengingat rumah sakit merupakan rujukan utama para pasien covid-19. Namun pemeriksaan kehamilan merupakan langkah penting yang perlu dilakukan secara berkala.

Seberapa penting pemeriksaan bagi ibu hamil?

Selama kehamilan, pemeriksaan kesehatan perlu dilakukan guna memantau kondisi janin dan ibu meskipun minim keluhan. Deteksi dini bila ada kelainan, kesiapan fisik dan mental ibu dalam melahirkan penting untuk diperhatikan oleh tenaga medis. Pemeriksaan kehamilan perlu dilakukan sedini mungkin, sejak pertama kali tahu bahwa anda sedang hamil. Pemeriksaan dapat dilakukan di bidan, klinik, rumah sakit atau puskemas terdekat. Pemeriksaan kehamilan yang teratur dapat membantu ibu mendapatkan kehamilan yang sehat dan bayi cukup bulan. Ini berarti bayi lahir antara 39 minggu dan 40 minggu. Bayi yang lahir cukup bulan memiliki waktu untuk tumbuh dan berkembang dengan baik.

Seberapa sering ibu hamil perlu melakukan pemeriksaan?

Ibu hamil dapat mengikuti anjuran berikut (dikutip dari The American College of Obstetricians and Gynecologists):

  • Antara minggu ke-4 sampai ke-28 kehamilan, pergilah ke dokter kandungan tiap 4 minggu sekali/satu bulan sekali.
  • Antara minggu ke-28 sampai ke-36 kehamilan, kunjungi dokter setiap 2 minggu sekali/dua kali dalam sebulan.
  • Antara minggu ke-36 sampai ke-41 kehamilan, pemeriksaan dilakukan setiap minggu/4 kali dalam sebulan.

Jika memiliki riwayat komplikasi pada kehamilan, anda akan diminta untuk melakukan pemeriksaan dengan lebih intens.

Pemeriksaan wajib bagi Ibu hamil

Pada kunjungan pertama, dokter/bidan akan melakukan sejumlah pemeriksaan dan meneliti seluruh aspek pada ibu hamil antara lain: riwayat kehamilan dan kesehatan, hari pertama siklus menstruasi terakhir, obat-obatan yang rutin diminum, paparan bahan kimia yang mungkin terjadi di rumah/pekerjaan, pola hidup (merokok, olahraga, minuman keras dll). Berikut pemeriksaan wajib yang akan diberikan kepada ibu hamil:

  1. Pemeriksaan fisik secara keseluruhan

Pemeriksaan ini meliputi pengukuran tinggi badan, berat badan dan kondisi fisik secara umum (tekanan darah, detak jantung, kondisi pupil mata dll). Pengukuran berat dan tinggi badan berguna untuk menghitung pertambahan berat badan ibu selama kehamilan. Bagi ibu hamil yang memiliki berat badan ideal, kenaikan berat badan pada trimester pertama disarankan 0,5 kg selanjutnya di trimester kedua dan seterusnya sekitar 1,6 kg/bulan. Total pertambahan berat badan selama kehamilan berkisar antara 10-14 kg. Ibu hamil yang underweight atau overweight, segera konsultasikan dengan dokter/bidan anda.

  1. Cek darah lengkap

Tes darah lengkap memberikan banyak informasi yaitu: kemungkinan adanya infeksi tertentu seperti sifilis, hepatitis dan HIV, virus rubella, kemungkinan penyakit talasemia atau kelaninan darah lain, kemungkinan bayi mengalami down syndrome dan trisomi 18 (didukung oleh tes lain). Selain itu, dokter menggunakan tes darah untuk mengetahui golongan darah, faktor RH ibu dan kemungkinan ibu mengalami anemia. Anemia adalah kondisi kekurangan sel darah merah yang sehat untuk membawa oksigen ke seluruh tubuh.

Faktor RH adalah protein yang dimiliki kebanyakan orang di sel darah merahnya. Beberapa wanita memiliki golongan darah yang tidak sesuai dengan bayi yang dikandung. Sebagai contoh ibu RH D negatif dan bayi RH D positif, ini akan menimbukan masalah untuk kehamilan di masa depan karena sel darah bayi memiliki antigen RH yang melekat sedangkan ibu tidak. Jika sejumlah darah ibu dan bayi tercampur maka sistem kekebalan ibu akan membangun antibodi anti D untuk melawan darah janin(dianggap sebagai ancaman). Ibu perlu diberikan suntikan anti D untuk menghentikan pembentukan antibodi.

  1. Tes urin

Tes ini digunakan untuk mendiagnosis kondisi serius yang disebut preeklamsia yaitu komplikasi kehamilan yang ditandai dengan tekanan darah tinggi. Penyakit ini dapat diketahui dari kadar protein yang terdapat dalam urin ibu. Pada pemeriksaan laboratorium, ibu dengan preeklamsia mengalami penurunan jumlah trombosit.Tes urin juga dapat mendeteksi infeksi ginjal/kandung kemih atau kondisi lain seperti diabetes.

  1. Pemeriksaan leher rahim dan Pap smear

Dokter/bidan akan memeriksa organ panggul (panggul dan rahim) untuk memastikan ibu sehat. Mendekati HPL, bidan akan memeriksa perubahan leher rahim sebagai upaya persiapan persalinan. Pap smear dilakukan dengan mengumpulkan sel yang diambil dari mulut rahim untuk diperiksa apakah ada pertumbuhan sel tidak normal/kanker dan kemungkinan infeksi contoh: gonorrhea (kencing nanah).

  1. Pemeriksaan USG

Adalah tindakan pemeriksaan yang menggunakan gelombang ulatrasonik untuk melihat ke dalam tubuh pasien. Dalam konteks kehamilan, USG digunakan untuk memastikan kehamilan,  mengetahui usia bayi dalam kandungan, mendeteksi ganguan-gangguan pada janin dan memeriksa jumlah cairan ketuban/amnion.

Berbagai pemeriksaan di atas merupakan pemeriksaan wajib selama kehamilan. Beberapa tes mendukung pemeriksaan lanjutan terkait risiko bayi kelainan genetik/kromosom. Jika ibu berisiko tinggi memiliki bayi dengan kondisi tersebut, dokter akan merekomendasikan beberapa pemeriksaan lain yang lebih detail.

Pemeriksaan genetik bagi Ibu hamil

Tidak semua ibu harus menjalani tes genetik di bawah ini, hanya ibu dengan risiko tinggi dan yang memiliki kondisi bawaan dari keluarga atau riwayat kehamilan sebelumnya. Pemeriksaan ini paling baik dilakukan pada minggu ke-16 dan tidak dapat dilakukan setelah minggu ke-19 kehamilan. Macam-macam tes yang dilakukan:

  1. Chronic Villus Sampling (CVS)

Pemeriksaan ini dilakukan antara minggu ke 11-12 kehamilan. Tes ini ditawarkan untuk memeriksa apakah bayi memiliki kondisi genetik/kromosom seperti down syndrome,  edward syndrome atau patau syndrome. Dokter akan mengambil sampel plasenta untuk diuji di laboratorium. Kelainan genetik lain seperti anemia sel sabit juga bisa dideteksi dengan tes ini. Keguguran mungkin terjadi karena komplikasi akibat tes ini.

  1. Amniocentesis

Tes berikut merupakan alternatif dari tes CVS (ibu hamil hanya perlu memilih satu dari dua tes). Dokter akan mengambil sampel cairan ketuban untuk diteliti lebih lanjut di laboratorium. Tes ini dilakukan untuk mengetahui kelainan genetik/kromosom pada bayi. Dilakukan antara minggu ke-15 dan ke-18 kehamilan.

  1. Cek gula darah

Antara minggu ke-24 dan ke-28, ibu akan mendapatkan tes skrining gula darah untuk melihat adanya kemungkinan diabetes gestasional. Ini adalah jenis diabetes yang diderita beberapa wanita selama kehamilan. Diabetes gestasional dapat menimbulkan komplikasi serius, namun bila dideteksi lebih awal dan ditangani dengan baik ibu tetap dapat melahirkan bayi yang sehat.

  1. Non-Invasive Prenatal Test (NIPT)

NIPT merupakan pemeriksaan materi genetik (DNA kromosom) yang berasal dari plasenta janin di dalam kandungan yang ikut bercampur dalam peredarah darah ibu. Tes ini bertujuan untuk mengetahui kondisi kromosom normal atau tidak, adanya kromosom seks (perempuan atau laki-laki dan adanya kemungkinan kelainan kromosom yang kemudian akan membawa kelainan bawaan genetik pada bayi. Pemeriksaan ini dapat dilakukan sejak usia kehamilan 10-14 minggu.

  1. Tes Grup B Streptococcus (GBS)

Grup B Streptococcus adalah jenis bakteri yang umum menyebabkan infeksi. GBS tidak akan menimbulkan rasa sakit bagi orang dewasa namun berbahaya bagi bayi. Bakteri tersebut hidup di usus, saluran kemih dan kelamin. Pengujian GBS cukup sederhana, dokter akan mengambil sampel cairan vagina dan rektum untuk diteliti di laboratorium.

Rutin menjalani pemeriksaan, menerapkan pola makan sehat dan bergizi seimbang serta istirahat cukup untuk menjaga kehamilan tetap sehat.