• Alamat Jl. Lili kembang, Maguwo, DIY
Call Center: (0274) 280 3000

A. Keputihan sebagai Hal Normal

Keputihan merupakan keluhan umum yang terjadi pada wanita di seluruh dunia terutama yang telah aktif secara seksual. Ini merupakan proses alami tubuh untuk membersihkan, melembabkan, mencegah dan melawan infeksi yang mungkin muncul dari paparan bakteri atau virus.

Secara fisiologis, keputihan akan mengalami perubahan mengikuti siklus menstruasi atau bila terjadi kehamilan. Frekuensi dan jumlahnya pun akan menurun saat masa menopause karena penurunan kadar estrogen. Anda tidak perlu khawatir saat mengalami keputihan.

Keputihan saat hamil atau tidak harus memperhatikan dan mengenali perubahan yang terjadi pada tubuh. Salah satunya melalui keputihan diamati dari aspek warna, aroma, konsistensi, durasi dan gejala yang mengikutinya seperti gatal, sensasi terbakar, nyeri dan rasa tidak nyaman.

Cairan yang keluar dari vagina ini dapat menjadi tanda kondisi kesehatan organ reproduksi secara keseluruhan dan tanda awal kehamilan.

B. Penyebab Keputihan

Keputihan dikategorikan normal apabila cairan cenderung jernih biasanya warna putih susu atau sedikit kekuningan, tidak berbau, kental seperti lendir dan tidak diikuti gejala yang mengganggu.

Keputihan keluar begitu saja tanpa efek samping dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari. Namun keputihan tidak normal (patologis) seringkali terjadi karena berbagai sebab antara lain:

1. Pertumbuhan berlebih bakteri tertentu sehingga menyebabkan terjadinya bakterial vaginosis (BV)

Kondisi ini terjadi karena perubahan jumlah jenis bakteri tertentu di vagina. Perlu diketahui, vagina manusia merupakan tempat tinggal ideal bakteri baik yaitu Lactobacillus untuk membersihkan vagina secara alami dan menjaga tingkat keasamannya. Namun ada pula bakteri jahat yang berdiam di vagina, bersifat anaerob dan jumlahnya lebih sedikit dari lactobacillus.

Apabila jumlah bakteri baik berkurang maka bakteri jahat akan mendominasi dan terjadi ketidakseimbangan antara keduanya. Penyebab terjadinya ketidakseimbangan jumlah tipe bakteri belum diketahui pasti, namun kondisi-kondisi di bawah ini meningkatkan risiko seseorang terjangkit BV:

– Perilaku seks berganti-ganti pasangan
– Wanita sering melakukan douching (tindakan membersihkan vagina dengan cara memasukkan cairan antiseptik secara mandiri)
– Perilaku seks bebas tanpa pengaman
– Perubahan hormon di masa kehamilan
– Penggunaan alat kontrasepsi terutama IUD

Keputihan tanda BV: keputihan warna putih atau abu-abu, berair/berbusa, berbau amis, sensasi terbakar saat buang air kecil, gatal di area vagina dan iritasi.

2. Jamur candidiasis

Pertumbuhan jamur Candida sebagian besar jenis Candida albicans ditemukan di mulut, saluran pencernaan dan vagina. Penyakit ini juga dapat menyerang penis laki-laki. Biasanya, candida dikendalikan oleh sistem imun dan bakteri baik yang dominan dalam tubuh.

Namun jika bakteri baik tersebut terganggu karena pengaruh antibiotik atau tingkat kelembaban maka dapat dipastikan jamur berkembang tidak terkendali. Tanda keputihan karena jamur candidiasis: keputihan berwarna putih/kuning, gatal area vagina, ruam kemerahan dan sensasi terbakar.

Jika anda mengalami keputihan saat hamil dengan ciri tersebut, perlu waspada sebab ibu hamil rentan terpapar jamur chlamydia.

3. Infeksi bakteri-bakteri patogen seperti trichomonas vaginalis, chlamydia dan neisseria gonorrhoeae dan lain-lain

Lebih dari 30 bakteri berbeda, virus dan parasit diketahui ditularkan melalui kontak seksual. Delapan dari patogen menyebabkan penyakit menular seksual, 4 dapat disembuhkan dan 4 lainnya tidak dapat disembuhkan.

Mayoritas individu terkena IMS tidak memiliki gejala yang jelas namun secara umum mengalami keputihan, sensasi terbakar, bisul/borok di organ genital dan nyeri perut.

4. Benda asing seperti tampon yang tertahan di dalam vagina dalam waktu lama

Selama siklus menstruasi, tampon vagina mengandung bakteri lactobacillus, bacteroides dan staphylococcus. Patogen yang paling mengkhawatirkan adalah staphylococcus aureus yang merupakan penyebab utama TSS (Toxic Shock Syndrome).

TSS terjadi karena bakteri masuk dalam aliran darah, berkembang biak dan meracuni darah manusia. Keputihan yang mungkin muncul sebagai gejala adalah berbau busuk, warna hijau muda, volume sedang dan sedikit berair.

5. Reaksi alergi dari penggunaan parfum/deodoran/produk kewanitaan lain (contoh: semprotan vagina)

6. Vaginistis atrofi

Kondisi dimana vagina dan area di sekitar vagina menjadi kering, tipis dan meradang. Beberapa penyebab antara lain: ketidakseimbangan hormon estrogen, konsumsi obat dalam jangka panjang dan riwayat operasi pengangkatan ovarium.

Gejala utama adalah pendarahan (terutama setelah berhubungan seksual) dan keputihan.

7. Fistula vagina atau obstetrik/rektovaginal

Adalah terhubungnya beberapa bagian tubuh atau pembuluh darah karena cedera, tindakan operasi, infeksi atau pembengkakan. Kondisi ini menyebabkan tidak hanya keputihan namun mungkin juga terjadi pengeluaran tinja atau nanah dari vagina.

8. Adanya tumor di vagina, vulva, leher rahim atau endometrium

Ciri paling jelas seseorang memiliki tumor/kanker adalah dari fenomena keputihan. Warna biasanya coklat atau kadang keluar bersamaan dengan darah, frekuensi meningkat dan berbau tidak sedap.

Terkadang seseorang tidak menyadari gejala ini sebagai tanda tumor/kanker karena keputihan merupakan sesuatu yang wajar.

9. Trauma (riwayat operasi pada vagina atau perineum)

C. 7 Tanda Keputihan Saat Hamil

Saat anda hamil muda, terjadi banyak perubahan pada hormon dan fluktuasinya seringkali berdampak pada vulva dan vagina. Kadar hormon estrogen dan progesteron meningkat sehingga produksi cairan serviks dan keputihan pun meningkat.

Peningkatan keputihan bertujuan untuk melindungi tubuh dari infeksi yang dapat membahayakan janin dalam kandungan. Menariknya, peningkatan volume keputihan menjadi salah satu tanda awal kehamilan. Berikut 8 ciri keputihan saat hamil:

– Keputihan di saat hamil muda berwarna bening/putih susu/putih kekuningan, tidak berbau dan konsistensi tipis encer.
– Di trimester awal, terkadang keputihan disertai bercak darah yang merupakan tanda implantasi (sel telur telah bertemu sperma dan menempel di rahim). Beberapa orang tidak mengalami tanda ini.
– Peningkatan volume keputihan hingga terlihat jelas di pakaian dalam anda.
– Menjelang persalinan, keputihan disertai dengan lendir merah muda sebagai tanda tubuh mempersiapkan dirinya untuk menghadapi persalinan.
– Keputihan muncul di 3 minggu pasca pembuahan/implantasi, frekuensi berkurang saat trimester kedua dan meningkat kembali di trimester ketiga mendekati waktu persalinan.
– Waspadai jika mulai ada perubahan warna pada keputihan dan muncul rasa gatal/sensasi terbakar karena ibu hamil lebih rentan terhadap infeksi bakteri dan jamur. Segera konsultasikan ke dokter kandungan.
– Keputihan terkadang disertai dengan kram perut ringan.

D. Solusi Bila Mengalami Keputihan Saat Hamil

Bila keputihan tergolong normal, yang harus ibu hamil lakukan adalah menjaga kebersihan organ kewanitaan. Keputihan yang muncul adalah upaya tubuh untuk menghindarkan bayi dari infeksi. Perlindungan ganda baik dari luar dan dalam perlu diupayakan dengan cara sebagai berikut:

– Gunakan pantyliner dan ganti setiap 3-4 jam sekali.
– Jika anda tidak nyaman menggunakan pantyliner, ganti pakaian dalam anda setiap 4 jam sekali agar area kewanitaan tidak lembab dan berpotensi tumbuh jamur/bakteri.
– Keringkan area kewanitaan dengan tissue kering (non-perfume) setelah selesai buang air kecil/besar. Lakukan dari depan ke belakang juga area anus dengan sisi lain pada tissue. Saat selesai mandi, lakukan hal serupa dengan handuk.
– Hindari menggunakan pembersih kewanitaan dengan kandungan parfum
– Konsultasikan kehamilan anda dengan dokter kandungan apabila terjadi perubahan warna pada keputihan atau muncul rasa tidak nyaman.