• Alamat Jl. Lili kembang, Maguwo, DIY
Call Center: (0274) 280 3000
infertilitas adalah

Fakta dan Statistik Terkait Infertilitas

Gangguan kesuburan atau infertilitas adalah merupakan momok sekaligus tantangan bagi pasangan yang sudah menikah. Sebanyak 10-15% pasangan usia subur di dunia mengalami infertilitas (data WHO tahun 2019). Di Indonesia, pasangan usia subur mencapai 40 juta maka jika dihitung dengan prosentase di atas, sekitar 4-6 juta pasangan tidak dapat hamil setelah satu tahun mencoba. Prevalensinya, setiap tahun 1 dari 8 pasangan sulit hamil. Di Amerika, 8,8% wanita menikah usia 15-49 tahun memiliki masalah infertilitas (berdasarkan National Survey of Family Growth tahun 2015-2017).

Definisi dan Cakupan Infertilitas

Infertilitas adalah kondisi dimana belum terjadi kehamilan pada pasangan usia subur setelah satu tahun melakukan hubungan seksual teratur tanpa kontrasepsi. Wanita yang dapat hamil namun tidak mampu mempertahankan kehamilannya hingga waktu melahirkan juga didiagnosis mengalami infertilitas (impaired fecundity). Pada umumnya, PCOS adalah penyebab utama masalah infertilitas.

Jenis Infertilitas

World Health Organization (WHO) dalam studinya terhadap 8.500 pasangan infertil di Negara berkembang menemukan 37% kasus infertilitas terjadi pada wanita. Namun faktanya, pria dan wanita memiliki peluang yang sama terkait dengan gangguan kesuburan. Terdapat dua kategori infertilitas yaitu:

  1. Infertilitas primer

Seorang wanita yang sulit hamil di tahun pertama pernikahan baik karena ketidakmampuan untuk hamil atau melahirkan. Wanita yang mengalami keguguran, still birth (bayi meninggal di usia kehamilan lebih dari 20 minggu) dan tanpa pernah melahirkan bayi dengan selamat masuk dalam kategori ini.

  1. Infertilitas sekunder

Kegagalan seorang wanita untuk hamil dan melahirkan setelah kehamilan sebelumnya. Seorang wanita yang mengalami keguguran berulang kali setelah sebelumnya berhasil melahirkan mengalami infertilitas sekunder.

Penyebab Infertilitas Adalah

Pada dasarnya, suami dan istri memiliki peluang yang sama menjadi penyebab gangguan kesuburan. Kombinasi keduanya juga mungkin terjadi, selain itu 10-15% pasangan mengalami unexplained infertility (infertilitas yang tidak bisa dijelaskan yaitu infertilitas tidak dapat dideteksi karena seluruh pemeriksaan normal namun kehamilan tak kunjung terjadi).

Infertilitas Adalah Gangguan Kesuburan Pada Wanita

Penyebab infertilitas wanita cenderung lebih kompleks dibandingkan pria. Ini dapat terjadi ketika:

  1. Gangguan tuba/organ panggul

Adanya gangguan pada tuba falopi menyebabkan sel telur dan sperma tidak bertemu sehingga kehamilan tidak terjadi. Masalah ini menjadi jawaban sepertiga kasus infertilitas di dunia. Sumbatan pada tuba falopi dapat ditemukan di beberapa lokasi seperti di ujung tuba dekat rahim, pangkal tuba dekat ovarium atau seluruh saluran tuba falopi. Gangguan tuba terjadi karena adanya sumbatan, perlekatan, penyakit radang panggul atau hidrosalfing (pelebaran tuba falopi karena sumbatan cairan). Beberapa factor yang dapat meningkatkan risiko seorang wanita mengalami hal-hal tersebut adalah:

  • Endometriosis

Jaringan abnormal tumbuh di tuba falopi dan menyebabkan penyumbatan. Kondisi ini dapat mengakibatkan perlengketan organ dalam panggul dan distorsi anatomi. Di beberapa kasus, penderita endometriosis mengeluhkan nyeri perut bagian bawah atau punggung dan menstruasi dengan jumlah tidak normal.

  • Infeksi bakteri, virus atau parasit

Lebih dari 30 jenis pathogen menular lewat hubungan seksual. Bakteri masuk ke organ reproduksi melalui vagina, leher rahim kemudian ke rahim, saluran tuba, ovarium dan organ panggul. Bakteri-bakteri penyebab penyakit menular seksual seperti gonorrhoe, chlamydia dan sifilis menyebabkan hidrosalfing (pelebaran tuba karena sumbatan cairan akibat infeksi bakteri) dan penyakit radang panggul.

  • Kehamilan ektopik sebelumnya

Kehamilan ektopik dapat terjadi di indung telur, tuba falopi atau leher rahim. Sel telur yang telah dibuahi oleh sperma berkembang di tuba falopi dan menyebabkan penyempitan. Jika tidak segera dilakukan penanganan, ada kemungkinan tuba falopi pecah dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Terlebih jika terjadi berulang kali, kondisi ini dapat mempengaruhi tingkat kesuburan wanita.

  • Riwayat operasi pada saluran tuba, panggul atau organ perut

Operasi pada salah satu atau kedua saluran tuba dapat menyebabkan perlengketan organ dalam panggul dan penyumbatan saluran

  1. Gangguan fungsi ovulasi (ovarium)

Kebanyakan disebabkan oleh Policystic Ovarian Syndrome (PCOS) dimana terjadi gangguan pematangan telur. Tampak melalui pemeriksaan HSG, sel telur kecil-kecil dan banyak disertai dengan siklus haid tidak teratur (siklus lebih dari 35 hari). Wanita penderita PCOS memiliki kadar hormon androgen (hormon pria) melebihi normal sehingga siklus menstruasi tidak teratur dan tidak ditemukan sel telur yang matang secara alami.

Penyebab lain: primary ovarian insuffiency (POI)adalah masalah kesehatan reproduksi dimana ovarium seorang wanita berhenti bekerja secara normal sebelum berusia 40 tahun. Ovarium masih memproduksi sel telur namun hanya sesekali. Dan masalah tiroid yaitu produksi hormon tiroid yang tidak normal (terlalu banyak atau sedikit) dapat mencegah ovulasi.

  1. Gangguan rahim

Gangguan ini dapat berupa miom (fibroid), septum, polip, adenomyosis, kista atau tumor pada rahim dan organ dalam lainnya. Kondisi tersebut terjadi karena pertumbuhan sel yang tidak normal pada rahim sehigga menyebabkan gangguan kesuburan.

  1. Faktor usia yang mempengaruhi jumlah cadangan telur di ovarium

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan peluang kehamilan semakin menurun seiring dengan pertambahan usia. Studi yang dilakukan tahun 2017 mengungkapkan prosentase kesulitan untuk hamil meningkat 14% pada wanita usia 30-34 tahun dan 16% pada wanita usia 40-44 tahun.Faktor genetik dan gaya hidup mempengaruhi cepat dan lambatnya penurunan tingkat kesuburan baik pada perempuan dan laki-laki.

Infertilitas Adalah Gangguan Kesuburan Pada Pria

Kondisi infertilitas pada pria dapat disebabkan oleh berbagai faktor dan diketahui melalui analisis sperma di laboratorium. Faktor-faktor tersebut antara lain:

  1. Abnormalitas pada sperma

Tes laboratorium akan mengevaluasi jumlah, pergerakan, bentuk sperma dan materi genetik yang terkandung di dalamnya. Jika sperma dalam kondisi tidak normal (jumlah sedikit, pergerakan terganggu atau bentuknya abnormal) maka sperma akan sulit membuahi sel telur dan menyebabkan infertilitas. Sperma yang tidak normal bisa disebabkan oleh materi genetik atau paparan panas pada area testis sehingga mendorong kerusakan DNA sperma.

  1. Gangguan fungsi testis atau ejakulasi

Testis memproduksi hormon dan sperma. Gangguan fungsi testis dapat berupa kanker testis, penimbunan cairan pada area testis, penyumbatan, peradangan karena bakteri dan virus, trauma pada testis/buah zakar dan varikokel. Varikokel adalah varises yang terjadi di daerah testis. Jika ditemukan varikokel maka suhu akan meningkat dan akan berperan pada kerusakan sperma. Infertilitas pada pria juga disebabkan karena kelainan ejakulasi retrogade. Saat ejakulasi, air mani tidak keluar melalui penis namun justru masuk ke kandung kemih.

  1. Gangguan hormon

Seluruh sistem metabolisme pria termasuk reproduksi tergantung pada hormon yang diproduksi otak. Ketika salah satu hormon mengalami gangguan (produksi hormon tidak normal, kadar hormon terlalu tinggi atau rendah) impotensi, penurunan hasrat seksual dan penurunan kualitas sperma mungkin terjadi. Gangguan hormon ini terjadi karena kerusakan sinyal dari otak sehingga testis tidak dapat memproduksi sperma dengan optimal. Contoh penyakit karena gangguan hormon: hypogonodotropin, sindrom Klinefelter dan sindrom Kallmann.

  1. Kelainan genetik

Sebagian besar kerusakan sperma disebabkan oleh faktor genetik. Pada kromosom Y terdapat gen AZF  yang berperan penting dalam proses pembentukan sperma di dalam testis (spermatogenesis). Apabila sebagian gen hilang meskipun kecil maka akan terjadi gangguan pada jumlah sperma atau bahkan azoospermia (kondisi tidak ditemukan sperma pada air mani).

  1. Gaya hidup

Faktor gaya hidup tidak sehat seperti merokok, obesitas, gizi buruk, konsumsi alkohol dan narkotika, trauma (benturan dan tekanan), faktor lingkungan tertentu (paparan radiasi, bahan kimia, panas) dapat menyebabkan penurunan kualitas dan kerusakan pada sperma.

Selain berbagai penyebab di atas, beberapa pasangan mengalami infertilitas namun tidak diketahui penyebabnya (unexplained infertility). Pemeriksaan dasar deteksi infertilitas telah dilakukan namun tidak ditemukan abnormalitas pada sperma atau organ reproduksi wanita. Pemeriksaan lanjutan seperti laparaskopi akan dilakukan oleh dokter untuk menganalisis lebih dalam kemungkinan-kemungkinan penyebab infertilitas.