• Alamat Jl. Lili kembang, Maguwo, DIY
Call Center: (0274) 280 3000

Kontrasepsi adalah kebutuhan utama perencanaan keluarga demi kualitas hidup yang lebih baik. Pada tahun 2019, rata-rata 70 bayi meninggal per 1000 kelahiran hidup di negara berkembang. Sedangkan di negara maju, tingkat kematian bayi hanya sekitar 8 bayi per 1000 kelahiran. Angka ini sangat ironis mengingat upaya pemerintah dan berbagai lembaga kesehatan untuk memperbaiki kualitas kesehatan.

Menurunkan angka kemiskinan dan mengupayakan perubahan struktural di masyarakat jelas menjadi fokus negara-negara berkembang saat. Dikutip dari WHO (World Health Organization) dua penyebab utama kematian bayi di tahun pertama yaitu: usia ibu yang terlalu muda atau tua dan jarak antar kelahiran terlalu cepat. Faktor ini pada gilirannya sangat dipengaruh oleh pengguunaan kontrasepsi untuk mengatur waktu kelahiran.

.

Pentingnya Perencanaan Kehamilan

Sepasang suami istri perlu merencanakan dan mengupayakan kesehatan reproduksi demi kesejahteraan keluarga. Melalui upaya tersebut, diharapkan pasangan suami istri memiliki keturunan yang berkualitas karena memiliki cukup waktu, sumber daya yang memadai (fisik atau mental) untuk menjalani kehamilan. Perencanaan kesehatan reproduksi perlu bantuan atau alat untuk mencapai tujuan. Kontrasepsi adalah alat yang penting dalam mencapai tujuan tersebut.

Pada umumnya goals utama penggunaan alat kontrasepsi adalah menunda kehamilan, menjaga interval jarak kehamilan (dari segi fisik, kematangan mental, keuangan dan lain-lain) dan meniadakan kemungkinan untuk hamil kembali (pasangan suami istri merasa sudah cukup dan ingin fokus pada perkembangan anak-anak). Berikut pedoman/patokan yang perlu diperhatikan:

  • Usia wanita paling optimal untuk hamil adalah 20-30 tahun. Lebih dari 30 tahun, risiko komplikasi pada kehamilan dan bayi meningkat.
  • Jarak kehamilan minimal 2 hingga 3 tahun.
  • Jumlah anak 2 hingga 3 anak merupakan jumlah yang ideal untuk sebuah keluarga. Jumlah ini dirasa paling pas sehingga kebutuhan anak secara fisik, mental dan ekonomi dapat terpenuhi.

.

Faktor Risiko Kematian Bayi

  • Usia Ibu

Bayi yang lahir dari ibu usia remaja berpotensi lahir prematur dan berat badan rendah. Kondisi ini mempengaruhi sistem imunitas pada bayi sehingga lebih rentan terpapar infeksi. Selain itu, di usia remaja kondisi fisik ibu belum matang sempurna sehingga berisiko tinggi mengalami komplikasi saat persalinan.

Kondisi mental dan psikologisnya-pun belum siap untuk menjadi ibu sehingga rentan mengalami sindrom baby blues. Karena pada umumnya ibu usia remaja masih duduk di bangku sekolah, pengetahuan mereka seputar gizi pada masa kehamilan rendah maka bayi dalam kandungan rawan terjadi gangguan dan kurang gizi. Untuk alasan-alasan tersebut bayi yang lahir dari ibu usia remaja berisiko mengalami kematian.

Kelahiran bayi oleh ibu usia lebih dari 40 tahun juga menjadi faktor risiko kematian. Wanita di rentang usia tersebut lebih berisiko menderita anemia, malnutrisi, kerusakan pada sistem reproduksi dan kesiapan fisik yang kurang prima.

  • Jarak Antar Kelahiran

Bayi yang lahir kurang dari 2 tahun setelah kelahiran sebelumnya berisiko mengalami kelahiran prematur atau berat badan lahir rendah. Angka kematian bayi mencapai 117 per 1000 kelahiran ketika interval kelahiran kurang dari 2 tahun sedangkan 47 kematian per 1000 kelahiran ketika jarak kelahiran empat tahun atau lebih.

.

Pentingnya Perencanaan Kehamilan

Sepasang suami istri perlu merencanakan dan mengupayakan kesehatan reproduksi demi kesejahteraan keluarga. Diharapkan pasangan suami istri memiliki keturunan yang berkualitas karena memiliki cukup waktu, sumber daya yang memadai (fisik atau mental) untuk menjalani kehamilan.

Perencanaan kesehatan reproduksi perlu bantuan atau alat untuk mencapai tujuan yaitu alat kontrasepsi. Pada umumnya, para wanita urung untuk menggunakan alat kontrasepsi karena takut akan efek sampingnya. Jerawat yang mungkin muncul, menstruasi tidak teratur, kegemukan karena pengaruh hormon menjadi momok bagi para wanita.

.

Jenis-jenis Kontrasepsi Aman dari Segala Efek Samping

  1. Pil KB

Produk kontrasepsi hormonal ini mengklaim memiliki efektivitas 99% apabila dikonsumsi secara teratur setiap harinya. Agar efektif, biasanya para wanita diharuskan mengkonsumi pada jam yang sama setiap hari tanpa absen satu haripun. Pil KB mengandung hormon progesteron sintetik (buatan) dan estrogen (jenis ekstradiol) untuk mencegah terjadinya kehamilan.

Hormon progestin disuntikkan untuk mengentalkan lendir di area mulut rahim agar mobilitas sperma menurun sehingga tidak dapat bertemu sel telur dan menipiskan dinding rahim agar tidak dimungkinkan sel telur dapat tumbuh. Sementara ekstradiol diberikan guna menghentikan proses ovulasi (pelepasan sel telur menuju rahim).

Bagi wanita yang tidak sedang menyusui, jenis pil KB kombinasi dua hormon tersebut dapat dikonsumsi untuk menunda terjadinya kehamilan. Namun untuk ibu menyusui disarankan memilih pil KB khusus laktasi yang mengandung hormon progestin dosis rendah supaya tidak mempengaruhi jumlah produksi dan kualitas ASI serta aman bagi bayi.

Riset membuktikan pil KB umumnya menimbulkan efek samping seperti munculnya jerawat berlebih dan kegemukan. Namun kini tak perlu khawatir, telah tersedia pil KB dengan kandungan khusus yang dapat membantu kesehatan kulit sehingga tetap sehat, halus, terhindar dari jerawat dan menjaga berat badan tetap stabil.

Tak lupa, beberapa pilihan pil KB dapat membantu siklus haid menjadi teratur setiap bulan dan minim rasa nyeri. Selain pil KB biasa, terdapat pil KB darurat sebagai metode kontrasepsi yang dapat segera mencegah kehamilan di situasi darurat.

  1. Suntik KB

Suntikan KB dengan kandungan dua hormon yang sama mempu menjadi pilihan metode kontrasepsi tanpa mengganggu siklus mentruasi. Tingkat proteksi mencapai 99% efektif pada tahun pertama penggunaan apabila disiplin menggunakan KB suntik. Efek samping yang mungkin muncul: perubahan pola haid (telat haid), spotting di luar siklus menstruasi, pusing dan mual.

Untuk suntik KB durasi 3 bulanan berpengaruh pada siklus menstruasi sehingga pengggunanya kerap tidak haid. Sedangkan untuk durasi 1 bulanan haid tetap lancar setiap bulan.

Masyarakat sering kali mengeluhkan durasi yang terlalu singkat dan absennya haid pada jenis kontrasepsi ini. Kini telah tersedia suntik KB dengan durasi 2 bulan dengan menstruasi teratur setiap bulannya. Anda dapat memilih sesuai kebutuhan dan kondisi tubuh.

  1. Pemasangan IUD

IUD merupakan pilihan metode kontrasepsi jangka panjang yang dapat memberikan kenyamanan dan keamanan selama 3 hingga 10 tahun tergantung pada material komposisi IUD dan jenisnya. Tembaga atau perak menjadi inti bahan penyusun IUD sebab terbukti aman berada di dalam rahim.

IUD berbentuk seperti T dengan lengan yang lentur untuk memberikan kenyamanan saat digunakan dan benang khusus dari bahan yang lembut. Efek samping yang umum terjadi: siklus menstruasi lebih banyak dan panjang. Ini karena rahim membutuhkan adaptasi terhadap alat kontrasepsi yang mengakibatkan pendarahan.

Namun tak perlu khawatir setelah 3 hingga 4 bulan akan kembali normal. Tingkat efektivitas IUD terjamin aman hingga 99% tentunya dengan pemeriksaan rutin setiap tahun. Wanita pada umumnya urung memilih jenis kontrasepsi ini karena efek samping pada saat pemasangan IUD. Khusus untuk rahim pendek, IUD khusus telah tersedia di pasaran.

  1. Implan

Metode implan dilakukan dengan pemasangan di bawah kulit lengan dalam bagian atas. Metode ini sangat efektif untuk mencegah kehamilan, tidak menggangu aktivitas sehari dan tidak menyebabkan perubahan hormon.

Alat kontrasepsi ini melindungi hingga 4 tahun, tidak membutuhkan pemeriksaan rutin, aman untuk ibu menyusui dan tidak mempengaruhi pola menstruasi. Beberapa wanita memilih jenis ini karena praktis dan minim efek samping

  1. Kondom

Ini merupakan metode kontrasepsi paling mudah dan minim efek samping. Jika digunakan dengan tepat, kondom dapat menjamin keamanan, kenyamanan dan kenikmatan saat berhubungan.

  1. Tubektomi/Vasektomi

Pembedahan pada saluran telur atau testis untuk mencegah kehamilan yang mungkin terjadi akibat hubungan seksual aktif suami dan istri.

.

Alat Kontrasepsi Mana yang harus dipilih?

Pada dasarnya semua kontrasepsi baik namun setiap orang memiliki profil kesehatan reproduksi yang berbeda-beda. Semua jenis kontrasepsi memiliki manfaat besar dan keberhasilan yang tinggi sesuai tujuan perencanaan keluarga.

Konsultasikan dengan dokter atau bidan untuk menemukan metode yang cocok. Efek samping yang ditimbulkan dari metode KB apapun merupakan suatu hal yang wajar, bersifat ringan dan tidak menimbulkan masalah kesehatan yang serius.

Pasca persalinan, metode amenore laktasi dapat dilakukan sebagai KB alami namun dengan pemenuhan syarat-syarat tertentu antara lain: menyusui eksklusif dan belum mengalami menstruasi. Jika salah satu syarat tidak terpenuhi maka metode KB alami sudah tidak lagi efektif.

.

Waktu Ideal Penggunaan Alat Kontrasepsi

Berikut merupakan rekomendasi waktu pemasangan alat kontrasepsi yaitu:

  1. Apabila ingin menunda kehamilan segera setelah menikah, maka disesuaikan dengan waktu penundan. Misal: jika ingin menunda kehamian selama 5 tahun karena suatu hal maka bisa memilih metode IUD. Apabila hanya ingin menunda 3 bulan saja maka bisa menggunakan KB suntik atau pil.
  2. Setelah melahirkan, untuk menjarangkan kehamilan. Tanpa menunggu haid bisa diberikan.
  3. KB apapun diberikan saat haid untuk membuktikan bahwa tidak sedang hamil. Pada penggunaan KB hormonal, mengikuti siklus haid saat hormon berada pada level dasar sehingga minim efek samping seperti pendarahan dan lain-lain. Selain itu, saat menstruasi leher rahim melunak sehingga keluhan nyeri sangat minimal.

Konsultasikan kondisi kesehatan sistem reproduksi anda bersama dokter kandungan di Rumah Sakit Bunga Bangsa Medika. Bagi ibu-ibu yang ingin melakukan pemasangan alat kontrasepsi bisa dilakukan di rumah sakit ini. Ibu yang baru saja melahirkan bisa juga langsung memutuskan menggunakan alat kontrasepsi.